NASIONAL.ID – Kabut duka memayungi dunia pelayaran di Sulawesi Selatan (Sulsel) setelah armada Kapal Motor (KM) Nurul Salsa dilaporkan karam alias tenggelam di kawasan perairan bagian barat Pulau Polassi, Kabupaten Kepulauan Selayar.

Insiden maut yang dipicu oleh kerusakan mekanis berat ini mengakibatkan puluhan penumpang terombang-ambing di lautan terbuka dan menewaskan satu orang penumpang.

Berdasarkan data resmi kronologi yang dihimpun dari pihak Humas Polres Kepulauan Selayar dan Basarnas Kelas A Makassar, berikut kronologi utuh peristiwa nahas tersebut sejak awal keberangkatan hingga operasi penyelamatan massal dilakukan.

Rabu, 15 Juli 2026 – Pukul 05.00 WITA: Lepas Jangkar dari Jampea

Perjalanan KM Nurul Salsa dimulai pada Rabu pagi sekitar pukul 05.00 WITA. Kapal motor ini bertolak dari dermaga Pulau Jampea dengan tujuan Pelabuhan Benteng Selayar.

Berdasarkan hasil validasi akhir di posko terpadu, kapal ini memuat total 70 jiwa yang terdiri dari 63 penumpang dan 7 orang awak kapal alias ABK.

Kondisi cuaca dan gelombang pada awal keberangkatan dilaporkan masih dalam batas normal sebelum akhirnya kapal memasuki area perairan dalam.

Rabu, 15 Juli 2026 – Tengah Perjalanan: KM Nurul Salsa Mengalami Gangguan Mesin

Setelah berlayar selama beberapa jam, KM Nurul Salsa mengalami kendala teknis yang fatal di tengah laut. Mesin utama kapal mendadak mati total dan tidak dapat dihidupkan kembali oleh kru mekanik.

Posisi kelumpuhan armada ini terpantau berada di perairan sebelah barat Pulau Polassi, atau berjarak sekitar 43 mil laut (nautical mile) dari Pelabuhan Benteng Selayar.

Akibat kendal itu, kapal kehilangan kendali arah dan mulai terombang-ambing dihantam ombak di lautan lepas hingga akhirnya dilaporkan tenggelam.

Pihak otoritas pelabuhan yang menerima sinyal kedaruratan langsung meneruskan informasi tersebut ke Basarnas Makassar untuk menggerakkan armada penyelamat.

Kamis, 16 Juli 2026 – Pukul 04.00 WITA: Operasi Evakuasi Pertama

Upaya penyelamatan pertama membuahkan hasil pada Kamis dini hari sekitar pukul 04.00 WITA.

Sebuah kapal komersial, KM Harapan Kita, yang kebetulan sedang melintas dari arah Pulau Jampea, berhasil mendeteksi keberadaan para korban di tengah laut.

Titik penemuan para korban berada pada jarak sekitar 18 mil laut dari lokasi awal karamnya kapal.

KM Harapan Kita sukses mengevakuasi 41 orang ke atas geladak mereka, yang terdiri dari 33 penumpang selamat, 7 awak kapal (termasuk juragan kapal bernama Marling), serta 1 jenazah korban meninggal dunia atas nama Salmawati (34).

Kamis, 16 Juli 2026 – Waktu Terpisah: Penyelamatan oleh Nelayan Lokal

Di saat yang hampir bersamaan, armada nelayan tradisional yang bergerak dari pesisir terdekat juga berhasil menjangkau titik koordinat lain di sekitar Pulau Polassi.

Aksi cepat para nelayan ini berhasil menyelamatkan 6 orang penumpang yang terpisah dari gerombolan utama.

Keenam korban selamat tersebut, yakni Junaedi, Muhammad Askar, Salla, Anhar, Nasma, dan Riswan.

Mereka langsung dilarikan ke daratan terdekat di Pulau Polassi untuk mendapatkan penanganan medis darurat.

Jumat, 17 Juli 2026: Perluasan Operasi Pencarian 27 Korban

Hingga Jumat sore, fokus operasi kemanusiaan ini bergeser pada pencarian masif.

Tim SAR gabungan yang diperkuat oleh unsur TNI Angkatan Laut, KRI Marlin 877, Syahbandar, BPBD, Satpolair, serta relawan nelayan masih menyisir laut berdasarkan simulasi Search and Rescue Planning (Sarmap).

Petugas saat ini masih terus mencari keberadaan 27 korban yang statusnya belum ditemukan.

Klaster pencarian dibagi menjadi dua, yakni 17 korban hilang yang namanya tercatat resmi di manifes kapal, serta 10 korban hilang lainnya yang keberadaannya baru teridentifikasi setelah adanya aduan dari pihak keluarga ke posko terpadu Polres Selayar. (***)