Nasional.id – Kabar duka kembali menyelimuti misi perdamaian Indonesia di Lebanon. Dua prajurit TNI dilaporkan gugur saat menjalankan tugas dalam operasi United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL), menyusul satu korban tewas sehari sebelumnya.

Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) TNI Mayjen Aulia Dwi Nasrullah membenarkan hal itu. Ia mengatakan bahwa dua prajurit yang meninggal dunia pada Senin (30/3) tersrbut adalah Kapten Inf Zulmi Aditya Iskandar dan Sertu Muhammad Nur Ichwan.

“Keduanya gugur akibat ledakan yang terjadi saat menjalankan tugas pengawalan,” ujar Aulia dalam keterangan resminya, Selasa (31/3/2026).

Insiden tersebut terjadi ketika Tim Escort Kompi B Satgas Yonmek XXIII-S/UNIFIL, yang tergabung dalam Sector East Mobile Reserve (SEMR), tengah mengawal konvoi Combat Support Service Unit (CSSU). Rombongan bergerak dari Markas Sektor Timur UNIFIL di United Nations Post (UNP) 7-2 menuju markas Satgas TNI di UNP 7-1.

“Ledakan terjadi di tengah meningkatnya eskalasi konflik di wilayah tersebut dan menyebabkan gugurnya dua prajurit TNI,” terang Aulia.

Selain dua korban meninggal, lanjut dia, insiden itu juga menyebabkan dua prajurit lainnya mengalami luka-luka. Keduanya diketahui bernama Lettu Inf Sulthan Wirdean Maulana dan Praka Deni Rianto.

“Saat ini, kedua prajurit tersebut sedang menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit St. George, Beirut,” pungkas dia.

Sehari sebelumnya tepatnya pada Minggu (29/3), satu prajurit TNI lainnya bernama  Praka Farizal Rhomadhon, lebih dulu gugur. Berdasarkan keterangan UNIFIL, ia tewas akibat ledakan proyektil di sekitar pos Indonesia di wilayah Adchit Al Qusayr.

Dengan demikian, total tiga prajurit TNI meninggal dunia dalam rangkaian insiden yang terjadi dalam dua hari terakhir di wilayah misi tersebut.

Pihak UNIFIL saat ini masih melakukan investigasi untuk mengungkap sumber pasti ledakan yang menewaskan para prajurit. TNI, di sisi lain, menyatakan terus memantau perkembangan situasi dan menyiapkan langkah antisipatif di tengah dinamika konflik yang meningkat.

“TNI tetap mengedepankan faktor keselamatan personel dengan memperketat kewaspadaan sesuai prosedur operasi standar yang berlaku,” kata Aulia.

Sementara itu, Kantor Berita Nasional Lebanon (NNA) sebelumnya melaporkan adanya serangan militer Israel yang menyasar area sekitar markas pasukan Indonesia di Adchit Al Qusayr. Serangan tersebut diduga menyebabkan sejumlah korban luka.

Namun, pihak militer Israel membantah keterlibatan mereka dalam insiden yang menewaskan prajurit TNI tersebut. Mereka menegaskan bahwa wilayah Lebanon selatan merupakan zona pertempuran aktif antara pasukan Israel dan milisi Hizbullah.

“Tidak tepat untuk langsung menyimpulkan bahwa insiden yang menimpa personel UNIFIL disebabkan oleh pasukan Israel,” demikian pernyataan resmi militer Israel.

Hingga kini, situasi di wilayah misi UNIFIL dilaporkan masih berisiko tinggi seiring meningkatnya intensitas konflik bersenjata di perbatasan Lebanon-Israel. ***