Nasional.id – Sebuah insiden yang melibatkan guru taman kanak-kanak dan orang tua murid di Kota Kendari menjadi sorotan publik setelah video penamparan yang terjadi di lingkungan sekolah viral di media sosial.

Pihak TK Mulia Islam akhirnya buka suara terkait kronologi kejadian yang melibatkan guru berinisial AI dan wali murid berinisial HM tersebut.

Penanggung jawab sekolah, Lisnawati, menjelaskan peristiwa itu bermula dari percakapan di grup WhatsApp yang berisi para guru dan orang tua murid. Dalam percakapan tersebut, AI menuliskan kalimat yang dianggap menyinggung salah satu orang tua murid.

“Awalnya ada pembahasan soal karakter anak di grup sekolah. Dari situ muncul percakapan yang kemudian saling dibalas hingga menimbulkan kesalahpahaman,” ujar Lisnawati saat dikonfirmasi, Kamis (21/5/2026).

Menurutnya, pesan yang memicu polemik itu berisi kalimat yang mengaitkan karakter anak dengan karakter orang tua. Pernyataan tersebut kemudian menuai protes dari sejumlah wali murid.

Keesokan harinya, beberapa orang tua murid, termasuk HM, mendatangi sekolah untuk meminta penjelasan langsung terkait isi percakapan di grup tersebut.

Saat pertemuan berlangsung, guru AI keluar menemui para orang tua murid untuk memberikan klarifikasi. Namun situasi disebut memanas hingga berujung pada aksi penamparan terhadap HM.

Video insiden itu kemudian beredar luas di media sosial dan memicu reaksi keras dari masyarakat. Banyak warganet menilai tindakan kekerasan tersebut tidak pantas dilakukan oleh seorang tenaga pendidik, terlebih terjadi di area sekolah.

Pihak sekolah mengakui AI merupakan guru honorer yang telah mengajar selama kurang lebih empat tahun di TK tersebut.

Usai video viral, pihak yayasan bersama manajemen sekolah langsung mengambil langkah tegas dengan memberhentikan AI dari tugasnya sebagai guru.

“Setelah kejadian itu, pihak sekolah bersama yayasan memutuskan untuk memberhentikan yang bersangkutan,” kata Lisnawati.

Selain itu, pihak sekolah juga berupaya melakukan mediasi antara kedua belah pihak agar persoalan dapat diselesaikan secara kekeluargaan. Meski demikian, kasus tersebut dikabarkan telah dilaporkan ke pihak kepolisian.

Lisnawati mengaku pihak sekolah terkejut setelah video penamparan tersebut menyebar luas di media sosial dan menjadi perhatian publik. (***)